Rabu, 01 April 2015

LAPORAN PRAKTIKUM MENGHITUNG INDEKS SAMPAH KOMODITAS HORTIKULTURA



LAPORAN PRAKTIKUM
PASCA PANEN HORTIKULTURA
ACARA 1
MENGHITUNG INDEKS SAMPAH KOMODITAS HORTIKULTURA

Disusun oleh:
                                                            Nama   :Rizky Adi Pratama
                                                            NIM     :12897
                                                            Gol/Kel:C2/6
                                                            Asisten :1.Bella Vyatrisa
                                                                          2.Bela Tri Wijayanti
                                                                          3.Dhemas Adi Purwa
                                                                          4.Istiklaliyah


LABORATORIUM HORTIKULTURA
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015









I.PENDAHULUAN
Latar Belakang
       Indeks sampah merupakan proporsi bagian yang bermanfaat terhadap bagian keseluruhan dari komoditas hortikultura.Hal tersebut menunjukkan seberapa besar manfaat dari suatu komoditas.Indeks sampah buahan pada umumnya lebih besar daripada indeks sampah sayuran.Hal tersebut disebabkan karena sampah yang dihasilkan dari buah lebih banyak daripada sayur.Hal tersebut dapat terjadi pada buah durian yang memiliki indeks sampah yang tinggi.Hal tersebut disebabkan karena durian yang digunakan pada bagian pulp buahnya saja.Komoditas hortikultura dari negara tropis pada umumnya lebih besar daripada dari negara subtropis.Nilai indeks sampah dapat ditentukan oleh kebiasaan konsumen dan proses pengolahan pada hasil komoditas hortikultura.
Tujuan
1.Mengetahui indeks sampah beberapa komoditas hortikultura.

II.TINJAUAN PUSTAKA
      Indonesia merupakan wilayah tropis dan beriklim basah.Daerah tropis memungkinkan tumbuhnya berbagai macam tumbuhan seperti buah,yaitu durian,duku,rambutan,dan kelengkeng. Salah satu permasalahan di Indonesia dalam persaingan pasar buah-buahan adalah kualitas mutu buah yang belum sesuai selera konsumen.Hanya ada sedikit jenis buah yang menempati pasar swalayan atau pasar dunia.Hal tersebut disebabkan penanganan pasca panen yang belum baik sehingga menyebabkan mutu buah menjadi tidak sesuai kriteria(Sunarjono,2008).
      Tanaman hortikultura sangat berperan dalam kehidupan manusia, karena merupakan sumber gizi yang menjadi pelengkap makanan. pokok yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan manusia. Selain itu, tanaman hortikultura merupakan sumber berbagai vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Komoditas hortikultura yang diutamakan adalah komoditas yang bernilai ekonomi tinggi, mempunyai peluang pasar besar dan mempunyai potensi produksi tinggi serta mempunyai peluang pengembangan teknologi. Adapun upaya yang dilaksanakan untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya hortikultura unggulan, yaitu meliputi penumbuhan sentra agribisnis hortikultura dan pemantapan sentra hortikultura yang sudah ada (Soleh, 1999 cit.Nopiana dan Balkis,2011).Beberapa komoditas hortikultura yang menjadi unggulan,meliputiduku,apel,semangka,nanas,salak,melon,sirsak,apel,anggur,rambutan,markisa,ja-mbu,bawang putih,kubis jamur,dan tomat(Zulkarnain,2009).
     Sayuran dan buah merupakan komoditas pangan yang sangat penting.Komoditas tersebut sangat mudah untuk rusak sehingga perlu penanganan yang serious. Apabila penanganan tidak sesuai standar maka kebermanfaatan komoditas tersebut akan berkurang sehingga menyebabkan tingginya indeks sampah.Proses penanganan untuk meningkatkan nilai produk tersebut harus dilakukan dengan bai agar indeks sampah yang dihasilkan dari komoditas tersebut rendah(Sudheer dan Indira,2007).
      Komoditas hortikultura yaitu sayuran dan buah merupakan suatu hal yang menjadi kebutuhan manusia.Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kedua hal tersebut memiliki banyak manfaat sebagai bahan pangan dan obat.Menurut Zulkarnain(2009),sayuran merupakan satu tanaman atau bagian tanaman yang memiliki banyak fungsi untuk manusia.Sayuran dapat diklasifikasi menjadi lima,yaitu
A.Sayuran akar,misalnya wortel,ubi jalar,dan singkong.
B.Sayuran batang,misalnya kentang,talas,dan kol.
C.Sayuran daun,misalnya bawang-bawangan,kubis,selada,dan bayam.
D.Sayuran Buah,misalnyatimun,terong,kacang-kacangan,gambas,tomat,dan pare.
E.Sayuran bunga atau tunas bunga muda seperti kubis,brokoli
F.Jamur seperti jamur merang, jamur kuping,dan jamur kayu.
Buah merupakan perkembangan dari satu atau lebih ovary pada bunga.Buah terdiri dari bagian-bagian seperti pericarp,biji,jaringan plasenta,resptakel,dan sumbu tangkai bunga.Menurut Zulkarnain(2009),klasifikasi buah adalah sebagai berikut
Berdasarkan jumlah ovari penyusun
1.Buah sederhana berdaging,misalnya tomat,apel,jeruk, dan anggur.
2.Buah sederhana tidak berdaging,misalnya kacang-kacangan,jagung,stroberi,nanas,semangka ,wortel,dan buah bunga matahari.
Penggolongan buah berdasarkan tipe pertumbuhan
1.Buah-buahan pohon,misalnya mangga,jeruk.duku,durian,rambutan,dan manggis.
2.Buah-buahan semak,misalnya salak dan nanas.
3.Buah-buahan berbatang basah,misalnya pisang dan papaya.
4.Buah-buahan berbatang merambat,misalnya semangka,melon,dan,markisa.

       Salah satu komoditas hortikultura yang memiliki arti penting adalah jeruk. Jeruk merupakan buah yang digemari masyarakat baik sebagai buah segar maupun olahan. Sebagai komoditas yang bernilai ekonomi tinggi pengembangan jeruk perlu mendapat perhatian yang besar mengingat kontribusinya yang besar pada perekonomian nasional. Produksi dan mutu jeruk dapat ditingkatkan melalui perbaikan lingkungan dan tanaman(Indriyani dkk.,2002 cit.Simatupang,2009).
      Kehilangan hasil tanaman buah dan sayuran dapat berupa penurunan kuantitas maupun kualitas. Penurunan kuantitas terjadi seperti penurunan bobot dan hilangnya produk, baik sebagian ataupun seluruhnya, yang disebabkan oleh kerusakan atau pembusukan. Kehilangan hasil karena penurunan kuantitas relatif mudah diamati. Bentuk kehilangan hasil yang relatif sulit diamati adalah menurunnya kualitas, seperti kerusakan tekstur, aroma, atau nilai gizi. Bentuk kehilangan yang lain adalah kehilangan daya tumbuh dan penurunan nilai jual yang disebabkan oleh turunnya harga. Kehilangan hasil dapat terjadi di lapangan atau di kebun, di tempat pengepakan, tempat penyimpanan, selama pengangkutan, di pasar besar atau pasar eceran. Kehilangan tersebut dapat terjadi karena fasilitas yang kurang memadai, pengetahuan  yang terbatas, manajemen yang tidak baik, pasar yang tidak berfungsi, atau penanganan oleh petani yang kurang hati-hati(Santoso dan Madya,2013).
III. METODE PELAKSANAAN
        Praktikum indeks sampah komoditas hortikultura dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2015 di Laboratorium Hortikultura,Fakultas Pertanian,Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta pada pukul 13.30 WIB. Bahan yang digunakan meliputi 32 komoditas hortikultura,yaitu papaya,kentang,sawi putih, strawberry, salak, durian, terong, brokoli, semangka, pare, wortel, duku,cabai rawit,pir,nanas,bunga kol, srikaya, apel, tomat, bayam, daun bawang, jeruk, sirsak, kangkung, bawang putih,cabai,sawo,nangka,anggur,gambas,rambutan,dan buncis. Alat yang digunakan,meliputi pisau,timbangan,dan wadah.
      Komoditas yang telah tersedia masing-masing jenis disediakan sebanyak tiga ulangan.Bobot keseluruhan(masing-masing komoditas ditimbang terlebih dahulu dan dicatat.Bagian-bagian dari komoditas yang tidak biasa dikonsumsi dipisahkan dengan pisau dan ditimbang secara terpisah dengan timbangan.Indeks sampah komoditas dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
 Indeks Sampah(%)= (Bobot bagian yang tidak digunakan/Bobot Keseluruhan) x 100 %











IV.HASIL
No
Komoditas
Indeks Sampah (%)


1
Pepaya
14.3

2
Kentang
9

3
Sawi Putih
1.7

4
Strawberi
2

5
Salak
33.26

6
Durian
83.12

7
Terong
8.25

8
Brokoli
64.31

9
Daun Bawang
8.19

10
Jeruk
44.97

11
Sirsak
25.25

12
Kangkung
63.42

13
Semangka
5

14
Pare
1.63

15
Wortel
1.91

16
Duku
5.57

17
Bawang Putih
3.95

18
Cabai
6.3

19
Sawo
15.8

20
Nangka
68.8

21
Anggur
0.883

22
Gambas
42.61

23
Rambutan
52.73

24
Buncis
4.76

25
Cabai Rawit
7.46

26
Buah Pir
21.39

27
Nanas
46.47

28
Bunga Kol
38.74

29
Srikaya
31.04

30
Apel
5.79

31
Tomat
0.37

32
Bayam
68.27






V.PEMBAHASAN
         Indeks sampah merupakan proporsi bobot buah atau sayur(hortikultura) yang tidak dimanfaatkan terhadap bobot komoditas secara keseluruhan. Nilai indeks sampah menunjukkan besarnya suatu manfaat pada hasil dari tanaman hortikultura. Pada penanganan pasca panen hortikultura, nilai indeks sampah dapat menjadi parameter tingkat keberhasilan pada komoditas tersebut. Indeks sampah pada masing-masing komoditas tidak sama baik antar jenis ataupun varietas. Hal tersebut disebabkan karena bobot sampah yang dihasilkan dan bobot utuh yang berbeda.
       Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks sampah adalah jenis varietas,bobot sampah,bobot utuh,kebiasaan konsumen,dan proses pengolahan hasil komoditas.Pada jenis,misalnya pada tomat dan durian.Kedua hal tersebut bebrbeda dalam hal bobot utuh.Pada tomat,bobot sampah sangat ringan karena sampah buah tersebut hanya pada kelopak atau tangkai,sedangkan pada durian bobot sampah sangat besar karena bagian yang dimanfaatkan hanya pada bagian daging buah saja.Faktor kebiasaan konsumen,misalnya ada konsumen yang memakan apel beserta kulitnya.Ada konsumen yang membuang kulit dan biji apel dan hanya memakan daging buah.Tentu saja hal tersebut mempengaruhi besarnya indeks sampah.Pada proses pengolahan,misalnya ada pabrik yang menjadikan tomat utuh untuk bahan campuran makanan.Selain itu,ada pabrik yang mengolah tomat hanya dijadikan sebagai produksi benih.Hal tersebut menjadikan perbedaan yang kontras pada nilai indeks sampah.
      Sayuran adalah bagian dari tanaman herba yang layak untuk dikonsumsi manusia. Nilai gizi sayuran mendefinisikan kandungan zat-zat esensial yang penting untuk mendukung kehidupan. Para ilmuwan mengkategorikan sayuran kedalam nutraceuticals, karena merupakan perpaduan antara gizi dan obat-obatan. Zat kimia tertentu yang terdapat dalam sayuran memiliki khasiat obat. Beberapa tanaman sayuran yang umum kita makan daunnya adalah bayam, kubis, lobak, dll Sayuran jenis ini kaya akan protein, serat, dan mineral seperti zat besi dan kalsium. Sayuran berdaun hijau juga memberi kita fitonutrien seperti karotenoid, vitamin C, K, dan asam folat. Kandungan lemak dalam sayuran jenis ini sangat rendah(Anonim,2013).
      Sayuran merupakan hasil perkembangan dari seluruh organ tanaman sedangkan buah merupakan hasil perkembangan dari satu atau lebih ovari bunga.Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa semua buah adalah sayuran dan ada beberapa komoditas sayuran yang tidak dapat dikatakan sebagai buah. Buah dan sayuran memiliki indeks sampah yang berbeda.Pada umumnya sayuran cenderung memiliki indeks sampah yang lebih banyak daripada buah.




     Wilayah tropis terletak antara 0° - 23½° LU dan 0° - 23½° LS. Ciri – ciri iklim tropis adalah sebagai berikut :Suhu udara rata – rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20° - 23° C. Bahkan dibeberapa tempat suhu tahunannya mencapai 30°C.Amplitudo suhu rata – rata tahunan kecil. Di khatulistiwa antara 1° - 5° C, sedangkan amplitudo hariannya besar. Tekanan udara lebih rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.Hujan banyak dan umumnya lebih banyak dari daerah lain di dunia. Contoh komoditas dari wilayah tropis, yaitu papaya, alpukat, strawberry, belimbing, duku, durian, kedondong, mangga, manggis, mangga,nangka,nanas,jeruk,sirsak,pisang,terong,rambutan,buah merah,semangka salak dan srikaya.

     Iklim subtropis terletak antara 23½° - 40° LU dan 23½° - 40° LS. Daerah ini merupakan peralihan antara iklim tropis dan iklim sedang. Ciri – ciri iklim subtropis adalah sebagai berikut:Batas yang tegas tidak dapat ditentukan dan merupakan daerah peralihan dari daerah iklim tropis dan iklim sedang.Terdapat empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musin dingin. Tetapi pada iklim ini musim panas tidak terlalu panas dan musim dingin tidak terlalu dingin.Suhu sepanjang tahun tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.Contoh tanaman subtropis: apel,semangka,anggur,kentang dan pear.

      Iklim tempat tanaman tumbuh mempengaruhi nilai indeks sampah.Pada komoditas yang berasal dari lingkungan subtropis,komoditas tersebut memiliki nilai indeks sampah yang lebih besar daripada lingkungan tropis.Pada lingkungan tropis,komoditas hortikultura mudah rusak karena adanya serangan hama dan penyakit sehingga indeks sampah komoditas hortikultura yang berasal dari lingkungan tropis lebih besar daripada lingkungan subtropics.Pada wilayah subtropis kerusakan sangat sedikit karena hama dan penyakit inventarisasinya sangat terbatas.
Histogram Indeks Sampah Buah(%)


Berdasarkan histogram di atas,buah papaya, kentang, strawberri, terong, semangka, pare, wortel,duku,cabai,sawo,anggur,buncis,cabai rawit,apel,tomat,dan bawang putih memiliki indeks sampah yang sangat rendah.Hal tersebut disebabkan karena pada pada buah tersebut bagian yang tidak digunakan hanya sedikit.Pada buah tersebut bagian yang tidak bermanfaat hanya meliputi tangkai buah,kelopak,kulit buah,dan biji pada buah. Bagian tangkai buah terdapat pada komoditas strawberry,terong,cabai,anggurapel,dan tomat.Bagian kelopak terdapat pada strawberry,terong,wortel,cabai,dan tomat.Bagian kulit buah yang tidak digunakan meliputi semangka, pare, wortel, duku, sawo, nangka, gambas, rambutan, pir, nanas, srikaya, apel,dan bawang putih. Pada komoditas tersebut,kulit buah tidak digunakan seperti pepaya, salak, durian, jeruk, sirsak, semangka, duku, sawo, nangka, rambutan, pir, srikaya, dan apel.Salak, durian,jeruk,salak,nangka,gambas,nanas,dan srikaya memiliki indeks sampah yang tinggi karena bagian yang tidak digunakan meliputi kulit buah,biji buah,bagian dalam buah yang tidak dikonsumsi.

Histogram Indeks Sampah Sayuran(%)

Pada komoditas papaya, kentang, sawi putih, terong, daun bawang, pare, wortel, bawang putih, cabai, buncis, cabai rawit memiliki indeks sampah yang rendah.Hal tersebut disebabkan karena bagian yang tidak dimanfaatkan hanya sedikit seperti biji pada papaya; kulit buah pada papaya, kentang, wortel, pare, dan bawang putih;serta bagian tangkai seperti sawi putih, pare;bagian kelopak seperti wortel, terong, cabai, cabai rawit, dan tomat.Pada komoditas brokoli, kangkung,  bayam, dan bunga kol memiliki indeks sampah yang tinggi karena  pada bagian tangkai tidak dimanfaatkan. Pada nangka dan gambas memiliki indeks sampah yang tinggi karena bagian kulit dan biji(nangka) tidak digunakan.


Histogram Gabungan(Buah atau Sayur)(%)
Pada komoditas pepaya,pare, bawang putih, kentang,dan wortel memiliki indeks sampah yang rendah karena bagian yang tidak dimanfaatkan hanya meliputi kulit buah dan biji(pepaya). Pada komoditas terong,cabai, cabai rawit, wortel,dan tomat bagian yang tidak digunakan adalah bagian bekas kelopak bunga. Pada buncis bagian tangkai tidak digunakan. Pada nangka dan gambas memiliki nilai indeks sampah yang tinggi karena ada bagian yang tidak digunakan meliputi kulit buah yang tebal dan biji pada nangka dan kulit tebal pada gambas.




Keterangan:1.Ungu=Buah
                     2.Hijau =Buah atau Sayuran
                     3.Biru  =Sayuran
Berdasarkan histogram di atas indeks sampah buah cenderung lebih rendah daripada indeks sampah sayuran.Hal tersebut dapat disebabkan karena bobot bagian yang tidak dikonsumsi pada sayuran terhadap bagian keseluruhan lebih banyak daripada buah-buahan.

VI.KESIMPULAN
 Indeks sampah buah-buahan cenderung lebih tinggi daripada sayuran.











DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013.  Kandungan Gizi yang Terdapat Pada Sayuran . <
http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/kandungan-gizi-yang-terdapat-pada-sayuran.html>. Diakses tanggal 22 Maret 2015.

Nopiana,S.dan Siti Balkis.2011. Analisis Pendapatan pola tanam beruntun tanaman hortikultura di Desa Bangunrejo Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.EPP 8: 30-40.
Santoso,M.B.dan Widyaiswara Madya.2013.Penanganan Pasca Panen Hortikultura.< http://bbppbinuang.info/news11-penanganan-pasca-panen-hortikultura.html>.Diakses tanggal 23 Maret 2015.

Simatupang,Sortha. 2009.  Karakterisasi dan pemanfaatan plasma nutfah jeruk in situ oleh masyarakat lokal Sumatera Utara 15: 70-74.

Sunarjono,Hendro.2008.Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Penebar Swadaya,Depok.

Sudheer,K.P. dan V.Indira.2007.Post Harvest Technology of Horticultural Crops.Jai Barat Printing Press,New Delhi.

Zulkarnain,2009.Dasar-Dasar Hortikultura.PT Bumi Aksara,Jakarta.


Sabtu, 14 Februari 2015

Tugas Metodologi Penelitian

Outline Proposal Penelitian
Pengaruh Sistem Irigasi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Varietas Melati Menoreh


 

Oleh
Rizky Adi Pratama
12/334853/PN/12897



Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2014



I.PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Beras merupakan komoditas yang berperan penting dalam perekonomian negara,ketahanan pangan nasional serta menjadi basis utama dalam revitalisasi pertanian. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk,kebutuhan beras pada tahun 2005 sampai 2015 diprediksi akan terus meningkat. Pada tahun 2005 kebutuhan beras setara 52,8 juta ton gabah kering giling. Pada tahun 2025 kebutuhan tersebut diprediksi sebesar 65,9 juta ton gabah kering giling. Salah satu strategi yang ditempuh untuk meningkatkan produksi padi nasional adalah pengembangan sistem irigasi(Litbang Pertanian,2005).  
Sistem irigasi yang baik merupakan pendukung keberhasilan pembangunan pertanian dan merupakan kebijakan pemerintah yang sangat strategis guna mempertahankan produksi swasembada beras. Diperlukan pengelolaan dan perhatian khusus dalam pengelolaan sumber daya air karena sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan air untuk kebutuhan tanaman, kehilangan air selama proses penyaluran air irigasi dan pada proses pemakaian(Akmal dkk.,2014).
Air yang bersumber dari irigasi merupakan sumberdaya pertanian yang sangat strategis. Berbeda dengan input lain seperti pupuk atau pestisida yang dimensi peranannya relatif terbatas pada proses produksi pertanian. Peranan air irigasi mempunyai dimensi yang lebih luas. Sumberdaya tersebut tidak hanya mempengaruhi produktivitas tetapi juga mempengaruhi spektrum perusahaan komoditas pertanian. Oleh karena itu,kinerja irigasi bukan hanya berpengaruh pada pertumbuhan produksi pertanian tetapi berimplikasi pada strategi pengusahaan komoditas pertanian dalam arti luas. Di masa mendatang,seiring dengan pertumbuhan penduduk maka kebutuhan terhadap air irigasi untuk memproduksi pangan terutama komoditas padi akan terus meningkat(Simatupang, 2000).
Di dalam jaringan tanaman,air berfungsi sebagai penyusun utama jaringan yang aktif mengadakan kegiatan fisiologis dan memelihara turgiditas yang diperlukan untuk pembesaran dan pertumbuhan sel (Kramer, 1963). Peranan yang penting ini menimbulkan konsekuensi bahwa secara langsung atau tidak langsung defisit air tanaman akan mempengaruhi semua proses metabolisme dalam tanaman yang mengakibatkan terganggunya proses pertumbuhan (Pugnaire dan Pardos, 1999). Air merupakan komponen penting yang dibutuhkan tanaman dalam proses pertumbuhan,perkembangan dan produksi tanaman padi sawah. Ketersediaan air yang cukup merupakan faktor utama dalam produksi padi. Air dapat berpengaruh pada bentuk fisik tanaman,unsur hara,dan keadaan fisik tanah(De Datta,1981). Fungsi air sebagai faktor produksi tanaman padi,yaitu memelihara struktur tanah yang telah diperoleh selama pengolahan tanah ,menghambat dan menekan pertumbuhan gulma,mengatur tinggi rendahnya suhu dalam tanah serta menetralkan atau mencuci unsur-unsur yang dapat meracuni tanaman (Amirullah,2012).
Air merupakan komponen utama yang dibutuhkan tanaman selain unsur hara, cahaya, dan udara. Peranan air bagi tanaman antara lain: (1) merupakan senyawa protoplasma, (2) media bagi reaksi metabolisme, (3) pereaksi penting dalam fotosintesis dan proses-proses hidrolik, (5) serta untuk turgiditas, pertumbuhan sel, mempertahankan bentuk daun, operasi stomata, dan pergerakan struktur tumbuhan (Tjondronegoro dkk., 1999). Secara umum,tanaman memerlukan air pada kondisi yang seimbang yaitu, keadaan pada saat air tersedia sama dengan kebutuhan tanaman. Kekurangan dan kelebihan air dapat mengganggu proses metabolisme bahkan akan mematikan tanaman. Hale dan Orcutt (1987) menyatakan bahwa kekeringan dapat berpengaruh pada pertumbuhan, hasil, dan kualitas tanaman. Kekurangan air yang berkepanjangan mengakibatkan tanaman mati.
Pada skala makro, pemberian air melalui irigasi seringkali diterapkan secara tidak efisien oleh petani. Kehilangan air di sepanjang saluran melalui rembesan masih tergolong tinggi. Sebagian besar petani menerapkan irigasi dengan prinsip mengairi lahan dengan volume air sebanyak mungkin tanpa menghiraukan kebutuhan optimum air untuk pertanamannya, sementara sebagian lahan petani lainnya tidak mendapatkan cukup air sehingga berakibat pada rendahnya produktivitas tanaman. Penerapan irigasi yang tidak efisien bisa terjadi melalui cara pemberian air yang tidak tepat baik secara jumlah dan waktu atau oleh kehilangan air yang berlebihan melalui rembesan. Penggenangan air secara terus-menerus. dapat berpotensi mengurangi efisiensi serapan hara nitrogen dan meningkatkan emisi gas metana pada atmosfer. Pengelolaan air padi sawah merupakan upaya untuk menekan kehilangan air dipetakan sawah guna mempertahankan atau meningkatkan hasil gabah persatuan luas dan volume air. Pengurangan air akibat perkolasi, rembesan, dan aliran permukaan dapat menekan penggunaan air irigasi (Amirullah,2012).
Salah satu sistem irigasi yang dapat menghemat air adalah sistem pengairan berselang. Pengairan berselang atau disebut juga intermittent adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian untuk menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi menjadi lebih luas, memberi kesempatan kepada akar untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam,mencegah timbulnya keracunan serta mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar. Pengairan berselang memberi kesempatan kepada akar untuk berkembang menjadi lebih baik. Pengairan berselang dapat mengurangi kerebahan, mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat, mengurangi kerebahan pada tanaman padi. Selain itu,hal tersebut dapat mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah), menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen, memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah), memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang serta mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus(Badan Litbang Pertanian,2011). Sistem irigasi berselang mampu menghemat air sebanyak 41% dan 49%(Setiobudi,1987 cit. Juliardi dan Ruskandar,2006)
2.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh beberapa sistem pengairan pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi varietas Melati Menoreh.
3.Manfaat
1.Diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu dan teknologi dalam usaha peningkatkan efisiensi penggunaan air pada padi.
2.Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai acuan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam budidaya padi sawah.

4.Hipotesis
Sistem pengairan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas padi varietas Melati Menoreh.

II.BAHAN DAN METODE PENELITIAN
1.Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2016 hingga Juli 2016 di salah satu unit University Farm, Unit Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, IPB, Darmaga pada ketinggian 240 m dpl dengan kisaran suhu harian 25-29 º C. Jenis tanah di tempat ini yaitu, Latosol dengan pH antara 4,5-5,5.
2.Bahan dan Alat
Bahan tanaman yang digunakan yaitu bibit padi varietas Melati Menoreh berumur 18 hari. Pupuk yang digunakan yaitu, pupuk Urea, SP-18, dan KCl. Alat yang digunakan, antara lain: alat-alat pertanian, bagan warna daun (BWD), alat ukur (meteran atau penggaris,gelas ukur), dan timbangan.
3.Rancangan Penelitian
Percobaan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode rancangan acak kelompok dengan menggunakan 3 perlakuan sistem irigasi. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali.Dengan demikian terdapat 9 unit percobaan. Model linier yang digunakan yaitu:
Yijk = µ + Ti + Bj + Єij


Keterangan
Yijk = Pengaruh perbedaan sistem pengairan dari perlakuan ke-I pada ulangan ke-j
Ti = Pengaruh sistem pengairan ke-i
Bj = Pengaruh blok ke-j
Єij = Pengaruh galat percobaan dari system pengairan ke-I pada ulangan ke-j
Untuk mengetahui pengaruh masing-masing perlakuan dilakukan uji sidik ragam (uji F) menggunakan analisis varian pada taraf 5 %. Apabila menunjukkan perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Data diolah dengan menggunakan program SAS.

3.Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan dimulai dengan pengolahan tanah yang dilakukan dua minggu sebelum tanam. Lahan dicangkul dan dibajak. Bekas sisa tanaman atau gulma dibuang. Tanah dibuat bedhengan setinggi 0.4 m. Ukuran petak percobaan 4 m x 4 m. Jarak antarpetak perlakuan 0,4 m. Jarak antarulangan perlakuan 0,7 m.
Penanaman dilakukan pada bibit padi yang berumur 14 hari dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, 1 bibit per lubang. Petakan yang digunakan dalam setiap satuan percobaan berukuran 4 m x 4 m = 16 m2. Penyulaman dilakukan pada 1-3 minggu setelah tanam (MST) dengan bibit yang berumur sama.
Pengairan dilakukan sesuai dengan perlakuan. Untuk pembanding (A),dilakukan penggenangan kurang lebih setinggi 5-10 cm secara terus-menerus pada semua fase pertumbuhan. Sedangkan perlakuan (B), pemberian air dilakukan secara berselang, yaitu penggenangan dilakukan pada awal tanam hingga 10 HST, kemudian dikeringkan selama 5-6 hari hingga retak-retak, kemudian digenangi lagi dengan ketinggian macak-macak (2-5 cm). Pengaturan air berselang terus dilakukan hingga memasuki fase pembungaan. Sejak fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi setinggi sekitar 5 cm, kemudian setelah itu hingga saat panen dikeringkan untuk memudahkan pemanenan dan meratakan pemasakan gabah. Pemberian air pada perlakuan (C), yaitu hanya pada kemalir/ parit saja dan tidak dilakukan penggenangan.
Pemberian pupuk urea dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada 4 MST, 6 MST dan saat menjelang primordia bunga dengan dosis 200 kg/ha dengan proporsi masing-masing 30%, 40%, 30%. Pupuk SP-18 dan KCl hanya diberikan sekali yaitu pada saat tanam dengan dosis 200 kg/ha SP-18 dan 100 kg/ha KCl.
4.Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan vegetatif dan komponen hasil serta hasil panen. Pengamatan tinggi tanaman,jumlah anakan per rumpun,dan warna daun dilakukan pada tanaman sampel pada petak yang merupakan tanaman tepi. Setiap unit percobaan terdapat 3 tanaman sampel yang diamati. Pengamatan panjang akar dan volume akar dilakukan pada tanaman korban yakni tanaman pada petak sampel. Tanaman tersebut dikelilingi 8 tanaman.Setiap unit percobaan dipilih 3 tanaman korban. Komponen hasil dan hasil tanaman dilakukan pada tanaman yang berada pada petak ubinan dan diamati saat tanaman padi berumur 105 hari atau saat tanaman sudah siap dipanen.


A.Pengamatan pada pertumbuhan vegetatif padi sawah meliputi:
1. Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah (pangkal batang) hingga ujung daun tertinggi pada setiap minggu mulai 4-8 MST.
2. Jumlah anakan per rumpun diukur setiap minggu mulai 4-8 MST.
3. Warna daun, diukur dengan menggunakan bagan warna daun pada daun teratas yang telah membuka.Skoring warna daun dilakukan pada setiap minggu mulai 4-8 MST.
4. Panjang akar, diukur dari pangkal batang hingga akar terpanjang pada saat 4 MST dan 8 MST.
5. Volume akar, diukur dengan mencelupkan akar yang sudah dicuci bersih dan diperas ke dalam gelas ukur pada saat 4 MST dan 8 MST.
B.Peubah komponen hasil dan hasil tanaman meliputi:
1. Komponen hasil, yaitu jumlah anakan produktif (jumlah malai per rumpun), jumlah gabah per malai, panjang malai, dan bobot per 1000 butir tanaman sampel. Mutu fisik gabah: bobot gabah isi dan gabah hampa (% bobot).
2. Hasil tanaman, yaitu bobot gabah basah dan kering per ubinan, serta dugaan hasil gabah kering panen dan gabah kering giling per hektar(Astuti,2010).












DAFTAR PUSTAKA
Akmal,Masimin dan Ella Meilianda.Efisiensi irigasi pada petak tersier di daerah irigasi Lawe Bulan Kabupaten Aceh Tenggara.Jurnal Teknik Sipil 3: 20-37.
Amirullah.2012.Pengelolaan Air Sistem Basah Kering .<http://sulsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=703:pengelolaan-air-sistem-basah-kering-awd&catid=133:pertanian&Itemid=207>.Diakses tanggal 1 Januari 2015.
Astuti,D.N.2010.Pengaruh sistem pengairan terhadap pertumbuhan dan produktivitas beberapa varietas padi sawah(Oryza sativa L.).Institut Pertanian Bogor.Skripsi.
Badan Litbang Pertanian.2011.Cara Pengairan Berselang pada Padi Sawah.<http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/995/>.Diakses tanggal 30 Desember 2014.
De Datta, S. K. 1981. Principles and Practices of Rice Production. John Wiley & Sons, Inc,Canada.
Hale, M. G., and D. M. Orcutt. 1987. The Physiology of Plants Under Stress. John Willey and Sons.,New York. Kramer, P.J. 1963. Water stress and plant growth. Agronomic Journal 55: 31-35.
 Juliardi,Iwan dan Ade Ruskandar.2006.Teknik Mengairi Padi Kalau macak-macak cukup, mengapa harus digenang?.Sinar Tani
Litbang Pertanian.2005.Proses dan Arah Pengembangan Agribisnis Padi.<http://www.litbang.pertanian.go.id/special/komoditas/b2padi>.Diakses tanggal 1 Januari 2015.
Pugnaire, F.I., and J. Pardos. 1999. Constrains by water stress on plant growth. In Passarakli, M. (ed.) Hand Book of Plant and Crop Stress. John Wiley & Sons, New York.
Simatupang, P. 2000. Fenomena Perlambatan dan Instabilitas Pertumbuhan Produksi Beras Nasional: Akar penyebab dan kebijakan pemulihannya. Makalah disampaikan pada Praseminar Nasional Sektor Pertanian Tahun 2002: Kendala, Tantangan dan Prospek, Bogor 4 Oktober 2000, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
Tjondronegoro, P., W. Prawinata, dan S. S. Harran. 1989. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid II. Diktat. Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor,Bogor.